Sabtu, 20 Desember 2014




A.    Definisi Trauma kepala
Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan otak (Sastrodiningrat, 2009). 
Menurut Brain Injury Association of America, trauma kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik (Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2006).
                    
B.     Klasifikasi trauma kepala
1.      Fraktur
      Menurut American Accreditation Health Care Commission, terdapat 4 jenis fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture, depressed fracture, compound fracture. Pengertian dari setiap fraktur adalah sebagai berikut: 
-          Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit
-          Linear or hairline: retak pada kranial yang berbentuk garis halus  tanpa   depresi, distorsi dan ‘splintering’.
-          Depressed: retak pada kranial dengan depresi ke arah otak.
-          Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada tengkorak. Selain retak terdapat juga hematoma subdural (Duldner,  2008).
      Terdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya retak atau kelainan pada bagian kranium. Fraktur basis kranii retak pada basis kranium. Hal ini memerlukan gaya yang lebih kuat dari fraktur linear pada kranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan hanya pada 4% pasien yang mengalami trauma kepala berat (Graham and Gennareli, 2000; Orlando Regional Healthcare, 2004). Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan fraktur basis kranii yaitu rhinorrhea (cairan serobrospinal keluar dari rongga hidung) dan gejala raccoon’s eye (penumpukan darah pada orbital mata). Tulang pada foramen magnum bisa retak sehingga menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah. Fraktur basis kranii bisa terjadi pada fossa anterior, media dan posterior (Garg, 2004). Fraktur maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang maxilofasial yang merupakan tulang yang kedua terbesar setelah tulang mandibula. Fraktur pada bagian ini boleh menyebabkan kelainan pada sinus maxilari (Garg, 2004). 
2.      Luka memar (kontosio) 
Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya, kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna merah kebiruan. Luka memar pada otak terjadi apabila otak menekan tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung otak seperti pada frontal, temporal dan oksipital. Kontusio yang besar dapat terlihat di CT-Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) seperti luka besar. Pada kontusio dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang di sebut edema. Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat kesadaran (Corrigan, 2004). 
3.      Laserasi (luka robek atau koyak) 
Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul atau runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh benda bermata tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah apabila terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. Luka ini biasanya terjadi pada kulit yang ada tulang dibawahnya pada proses penyembuhan dan biasanya pada penyembuhan dapat menimbulkan jaringan parut. 
4.      Abrasi  
Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial.  Luka ini bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai  pada jaringan subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak  ujung-ujung saraf yang rusak. 
5.      Avulsi  
Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,tetapi sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial. Dengan kata lain intak kulit pada kranial terlepas setelah kecederaan (Mansjoer, 2000).
                                                   
C.    Etiologi trauma kepala
            Penyebab trauma kepala Menurut Brain Injury Association of America, penyebab utama trauma kepala adalah karena terjatuh sebanyak 28%, kecelakaan lalu lintas sebanyak 20%, karena disebabkan kecelakaan secara umum sebanyak 19% dan kekerasan sebanyak 11% dan akibat ledakan di medan perang merupakan penyebab utama trauma kepala (Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2006).  
            Kecelakaan lalu lintas dan terjatuh merupakan penyebab rawat inap pasien trauma kepala yaitu sebanyak 32,1 dan 29,8 per100.000 populasi.  Kekerasan adalah penyebab ketiga rawat inap pasien trauma kepala mencatat sebanyak 7,1 per100.000 populasi di Amerika Serikat ( Coronado,  Thomas, 2007).
1.      Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan bermotor bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain sehingga menyebabkan kerusakan atau kecederaan kepada pengguna jalan raya (IRTAD, 1995).
2.      Jatuh
Menurut KBBI, jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika masih di gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah. 
3.      Kekerasan
      Menurut KBBI, kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal atau perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik pada barang atau orang lain (secara paksaan).

D.    Patofisiologi Trauma Kepala
Menurut Tarwoto (2007 : 127) adanya trauma kepala dapat mengakibatkan kerusakan struktur, misalnya kerusakan pada paremkim otak, kerusakan pembuluh darah, perdarahan, edema dan gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosis tripospat,perubahan permeabilitas vaskuler. Patofisiologi trauma kepala dapat di golongkan menjadi 2 yaitu trauma kepala primer dan trauma kepala sekunder.
      trauma kepala primer merupakan suatu proses biomekanik yang dapat terjadi secara langsung saat kepala terbentur dan memberi dampak cedera jaringan otak. trauma kepala primer adalah kerusakan yang terjadi pada masa akut, yaitu terjadi segera saat benturan terjadi. Kerusakan primer ini dapat bersifat ( fokal ) local, maupun difus. Kerusakan fokal yaitu kerusakan jaringan yang terjadi pada bagian tertentu saja dari kepala, sedangkan bagian relative tidak terganggu. Kerusakan difus yaitu kerusakan yang sifatnya berupa disfungsi menyeluruh dari otak dan umumnya bersifat makroskopis.
trauma kepala sekunder terjadi akibat trauma kepala primer, misalnya akibat hipoksemia, iskemia dan perdarahan.Perdarahan cerebral menimbulkan hematoma, misalnya Epidoral Hematom yaitu adanya darah di ruang Epidural diantara periosteum tengkorak dengan durameter,subdural hematoma akibat berkumpulnya darah pada ruang antara durameter dengan subarakhnoit dan intracerebal hematom adalah berkumpulnya darah didalam jaringan cerebral
                                                
E.     Manifestasi Klinis Trauma Kepala
      Gejala Klinis trauma kepala Menurut Reissner (2009), gejala klinis trauma kepala adalah seperti berikut: 
1.      Tanda-tanda klinis yang dapat membantu mendiagnosa adalah:
-          Battle sign (warna biru atau ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid)
-          Hemotipanum (perdarahan di daerah menbran timpani telinga)
-          Periorbital ecchymosis (mata warna hitam tanpa trauma langsung)
-          Rhinorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari hidung)
-          Otorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari telinga) 
2.      Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala ringan
-          Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat  kemudian sembuh.
-          Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan.
-          Mual atau dan muntah.
-          Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun. 
-          Perubahan keperibadian diri.
-          Letargik. 
3.      Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala berat;
-          Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan di otak menurun atau meningkat
-          Perubahan ukuran pupil (anisokoria).
-          Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi pernafasan).
-          Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan atau posisi abnormal ekstrimitas.

F.     Komplikasi Trauma Kepala
      Komplikasi yang sering dijumpai dan berbahaya menurut (Markam, 1999) pada cedera kepala meliputi
1.      Koma          
            Penderita tidak sadar dan tidak memberikan respon disebut koma. Pada situasi ini secara khas berlangsung hanya beberapa hari atau minggu, setelah masa ini penderita akan terbangun, sedangkan beberapa kasus lainnya memasuki vegetatife state. Walaupun demikian penderita masih tidak sadar dan tidak menyadari lingkungan sekitarnya. Penderita pada vegetatife state lebih dari satu tahun jarang sembuh.
2.      Kejang/Seizure         
      Penderita yang mengalami cedera kepala akan mengalami sekurang-  kurangnya sekali kejang pada masa minggu pertama setelah cedera. Meskipun demikian, keadaan ini berkembang menjadi epilepsy
3.      Infeksi         
      Fraktur tulang tengkorak atau luka terbuka dapat merobekkan membran (meningen) sehingga kuman dapat masuk infeksi meningen ini biasanya berbahaya karena keadaan ini memiliki potensial untuk menyebar ke system saraf yang lain.
4.      Hilangnya kemampuan kognitif
      Berfikir, akal sehat, penyelesaian masalah, proses informasi dan memori merupakan kemampuan kognitif. Banyak penderita dengan cedera kepala mengalami masalah kesadaran.
5.      Penyakit Alzheimer dan Parkinson
      Pada khasus cedera kepala resiko perkembangan terjadinya penyakit Alzheimer tinggi dan sedikit terjadi Parkinson. Resiko akan semakin tinggi tergantung frekuensi dan keparahan cedera. 

G.    Penatalaksanaan Trauma Kepala
      Penatalaksanaan awal penderita cedera kepala pada dasarnya memiliki tujuan untuk sedini mungkin dan mencegah cedera kepala sekunder serta memperbaiki keadaan umum seoptimal mungkin sehingga dapat membantu penyembuhan sel-sel otak yang sakit (Fauzi,2002). Untuk penatalaksanaan cedera kepala menurut (IKABI, 2004) telah menempatkan standar yang disesuaikan dengan tingkat keparahan cedera yaitu cedera kepala ringan,cedera kepala sedang dan cedera kepala berat. Penatalaksanaan penderita cedera kepala sedang dengan GCS 9-13  meliputi :
1.      Anamnesa penderita yang. terdiri dari; nama,umur,jenis kelamin, ras, pekerjaan
2.      Mekanisme cedera kepala
3.      Waktu terjadinya cedera
4.      Adanya  gangguan tingkat kesadaran setelah cedera
5.      Amnesia : retrogade, antegrade.
6.      Sakit kepala : ringan, sedang, berat
7.      Pemeriksaan umum untuk menyingkirkan cedera sistemik
8.      Pemeriksaan neurulogis secara periodik.
9.      Pemeriksaan CT scan kepala.
10.  Penderita dilakukan rawat inap untuk observasi
11.  Bila  kondisi penderita membaik (90%). penderita dapat dipulangkan dan kontrol di poliklinik.
12.  Bila kondisi penderita memburuk (10%) segera lakukan pemeriksaan CT scan ulang dan penatalaksanaan sesuai dengan protokol cedera kepala berat.
      Cedera kepala sedang walaupun masih bisa menuruti perintah sederhana  masih ada kemungkinan untuk jatuh ke kondisi cedera kepala berat. Maka harus diperhatikan dan ditangani secara serius. Penatalaksanaan cedera kepala sedang adalah untuk mencegah terjadinya cedera kepala sekunder oleh karena adanya massa intrakranial atau infeksi intrakranial. Penderita yang setelah lewat 24 jam terjadinya trauma kepala, meskipun keadaan stabil harus dilakukan perawatan untuk keperluan obserfasi.(Markam S, Atmadja, Budijanto A, 1999).        
      Observasi bertujuan untuk menemukan sedini mungkin penyulit asau kelainan lain yang tidak segera memberi tanda atau gejala. (Hidajat, 2004). Untuk melakukan observasi pada panderita cedera kepala digunakan metode glasgow coma scale (GCS).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar